Tuesday, March 29, 2016

Memahami Filsafat Islam 4



FiLsafat Hakiki atau Filsafat Tinggi

Menurut pandangan para filsuf, di tengah berbagai pembahasan filsafat, terdapat suatu bagian pembahasan yang lebih istimewa dari berbagai bagian pembahasan yang lain. Dan seakan-akan, inti dan substansi pembahasan filsafat adalah pada bagian itu; ia memiliki berbagai sebutan: filsafat utama (aulaa), filsafat tinggi ( 'ulyaa), ilmu tertinggi (a,laa), ilmu universal (kulli), teologi (Ilahiyah), dan filsafat metafisika.

Keistimewaan ilmu tersebut atas seluruh ilmu yang lain adalah:
Pertama, menurut pendapat orang-orang terdahulu, ilmu ini lebih argumentatif dan lebih meyakinkan dibandingkarn jenis ilmu yang lain.
Kedua, ilmu tersebut menguasai berbagai ilmu yang lain, dan pada hakikatnya merupakan raja dari semua ilmu (mother of sciences). Ini karena seluruh ilmu membutuhkannya dan bergantung kepadanya, sedangkan ilmu tersebut tidak membutuhkan ilmu-ilmu yang lain.
Ketiga, ilmu tersebut lebih umum dan lebih universal (kulli) dari berbagai ilmu yang lain.
Dengan demikian, menurut para filsuf kuno, kata filsafat memiliki dua arti. Pertama, arti yang umum, yaitu semua ilmu rasional yang mencakup semua ilmu yang bukan naqli. Sedangkan kedua, adalah arti yang tidak umum yaitu teologi (ilmu ketuhanan) atau filsafat tinggi, yang merupakan bagian (pecahan) dari filsafat teoretis.

Filsafat, menurut istilah yang umum, adalah ilmu yang bukan naqli Dan filsuf adalah seseorang yang mampu menguasai seluruh ilmu pengetahuan. Dan berdasarkan pada pemahaman umum terhadap filsafat ini, maka dikatakan bahwa filsafat adalah kesempurnaan jiwa manusia baik dari sisi teoretis maupun dari sisi praktis.

Namun menurut istilah yang tidak umum, yang dimaksud dengan filsafat adalah sebuah ilmu yang oleh orang-orang kuno disebut dengan filsafat hakiki, filsafat utama, atau ilmu tinggi, maka filsafat memiliki suatu definisi khusus. Dan dalam menjawab pertanyaan "Apa­kah filsafat itu?" kita dapat menjawabnya dengan mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang berbagai eksistensi qua (dalam kapasitasnya sebagai) eksistensi, tanpa menentukan suatu objek khusus, misalnya materi, kuantitas, kualitas, manusia atau tumbuhan, dan lain sebagainya.

Penjelasannya, pengetahuan dan informasi kita tentang berbagai berada ada dua bentuk: khusus terhadap spesies (nau') atau genus (jins) tertentu. Dengan kata lain-berkenaan dengan berbagai keadaan dan hukum serta pengaruh khusus sebuah spesies atau genus tertentu-pengetahuan kita tentang berbagai hukum dan ketentuan tentang kuantitas yang berbeda, dinyatakan melalui angka-angka (aritmetika); tentang kuantitas yang berbeda, dinyatakan melalui galls dan bilangan (geometri); tentang tumbuhan (botani); tentang tubuh kita (anatomi); demikian pula dengan berbagai ilmu lainnya seperti geologi, kosmo­logi, mineralogi, zoologi, psikologi, sosiologi, ilmu atom, dan lain sebagainya.

Filsafat merupakan ilmu yang tidak terbatas pada suatu spesies tertentu; bukan dikarenakan eksistensi adalah spesies tertentu, lain tidak memiliki berbagai hukum, ketentuan, keadaan dan sifat tertentu, namun sebaliknya dikarenakan memiliki berbagai hukum ketentuan, dan pengaruh maka itu adalah eksistensi.

Dengan kata lain, pandangan dan kajian terhadap berbagai partikel dan instrumen dunia ini dalam bentuk terpisah-pisah dan berbeda-beda, dan adakalanya dari sisi kesatuan, yakni eksistensi dari sisi eksistensi merupakan satu unit (kesatuan), later kita melanjutkan pengamatan dan kajian kita terhadap sate unit dan kesatuan tersebut yang mencakup berbagai perkara.

Jika kita mengumpamakan dunia ini seperti sebuah tubuh, maka pengamatan dan kajian terhadap dunia ini ada dua bentuk. Sebagian pengamatan kita berhubungan dengan anggota tubuh, seperti kepala, tangan, kaki. Tetapi pengamatan dan kajian kita yang lain berhu­bungan dengan seluruh anggota tubuh tersebut, misalnya sejak kapan keberadaan anggota tubuh ini? Sampai kapan akan senantiasa ada? Pada dasarnya, apakah pertanyaan 'kapan' terhadap berbagai anggota tubuh merupakan suatu pertanyaan yang pada tempatnya ataukah tidak? Apakah anggota tubuh merupakan satu kesatuan yang hakiki; tampaknya berbilang namun tidak berbilang. Ataukah kesatuannya adalah relatif dan sebatas hubungan yang ada di antara komponen sebuah mobil, yakni tidak lebih hanya kesatuan rakitan? Apakah berbagai anggota tubuh ini memiliki sumber dan asal mula, yang mana keber­adaan seluruh anggota tubuh yang lain berasal darinya?

Apakah tubuh ini memiliki sebuah kepala, dan kepala tubuh itu menyebabkan keberadaan dan munculnya berbagai anggota tubuh yang lain? Ataukah tubuh ini tanpa kepala? Apakah jika terdapat kepala, kepala ini memiliki otak yang memiliki perasaan (emosi) ataukah kosong dan hampa? Apakah seluruh bagian dari tubuh bahkan kuku, tulang, dan rarnbut memiliki suatu bentuk kehidupan? Apakah perasaan dan pengetahuan pada bagian tubuh tersebut terbatas pada sebagian entitas yang muncul secara kebetulan, seperti ulat pada tubuh jenazah yang ulat tersebut adalah binatang dan apakah dapat disebut bagian dari manusia? Apakah sekumpulan anggota tubuh ini memiliki suatu tujuan tertentu, dan menuju pada kesempurnaan dan hakikat, ataukah kesemuanya itu merupakan suatu keberadaan yang tanpa tujuan?
Apakah muncul dan musnahnya anggota tubuh itu secara spontan, ataukah berdasarkan pada hukum kausalitas (sebab-akibat)? Dan tidak ada sesuatu pun yang ada di clam ini yang tanpa sebab? Apakah setiap akibat khusus pasti dikarenakan suatu sebab khusus? Apakah sistem yang mengatur anggota tubuh ini sebuah sistem yang pasti dan tidak dapat dilanggar? Apakah urut-urutan, keterdahuluan (taqaddum) dan keterakhiran (ta'akhkhur) anggota tubuh adalah suatu yang benar-benar nyata ataukah tidak? Dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, pengamatan dan kajian kita yang berhubungan dengan "anggota tubuh clam realitas" adalah `wins', sedangkan kajian dan pengamatan kita yang berhubungan dengan "tubuh alam realitas" adalah `filsafat'.

Dengan demikian, kita melihat bahwa tipe khusus dari berbagai permasalahan yang sama sekali tidak menyerupai dengan suatu ilmu pun dari berbagai ilmu yang berisikan penelitian tentang suatu hakikat, kesemuanya itu membentuk satu tipe khusus. Tetapi tatkala kita hendak mengadakan kajian dan pengamatan terhadap tipe permasalah-an dari sisi 'bagian-bagian dari sains', dan kita hendak mengetahui bahwa secara teknis berbagai permasalahan ini termasuk berbagai aksiden (awaaridh) dari topik yang mana, kita menyaksikan bahwa berasal dari 'eksistensi qua eksistensi'. Dan jelas, penjelasan dan pemaparan permasalahan ini hams dikaji dalam buku filsafat yang berisikan pembahasan yang luas, dan jelas hal itu tidak dapat dibahas dalam buku ini.

Selain masalah di atas, setiap kali kita membahas mengenai esensi (maahiyah) berbagai berada, misalnya saja, apakah esensi dan ke-'apa'­an serta definisi nyata (hakiki) dari berada atau manusia? Ataupun setiap kita menginginkan untuk membahas mengenai keberadaan (wujuud) berbagai berada, misalnya saja, adakah lingkaran hakiki atau garis hakiki ataukah tidak? Hal itu juga berhubungan dengan bidang ilmu ini (filsafat) karena permasalahan ini juga merupakan bagian dari pembahasan berbagai aksiden (awaaridh) 'eksistensi qua eksistensi' (al maujud bima huwa maujud). Yakni, menurut istilah adalah berbagai esensi dari berbagai aksiden dan hukum-hukum 'eksistensi qua eksis­tensi'. Pembahasan ini juga sangat panjang dan lebar, dan akan keluar dari batas pembahasan buku ini.

Hasil pembahasan adalah, jika seseorang bertanya kepada kita, "Apakah filsafatt itu?" Sebelum kita menjawabnya, maka kita harus menyatakan bahwa kata ini pada setiap kelompok dan ahli memiliki arti yang berbeda-beda, dan masing-masing dari mereka memiliki istilah khusus. Jika yang ia maksud adalah pendefinisian filsafat menurut terminologi Muslimin yang cukup populer, maka filsafat adalah nama genus (ism jins) bagi seluruh ilmu rasional dan bukan merupakan suatu nama bagi ilmu tertentu. Sedangkan menurut terminologi yang tidak populer, filsafat adalah sebuah nama bagi "ilmu tinggi" dan itu adalah ilmu yang berisikan pembahasan berbagai permasalahan yang paling universal dari keberadaan (wujuud), yang tidak berhubungan dengan subjek khusus, namun bahkan berhubungan dengan seluruh subjek yang ada. Filsafat adalah sebuah ilmu yang memandang dan meng­amati keberadaan (eksistensi) alam ini sebagai suatu subjek yang satu.{}

Memahami Filsafat Islam 3



Muslimin mengambil kata ini (falsafah atau filsafat) dari Yunani, kemudian diubah dan disesuaikan dengan bentuk kata bahasa Arab, dan memiliki arti berbagai ilmu pengetahuan yang rasional.
Menurut istilah Muslimin, filsafat bukan merupakan nama suatu bidang khusus ataupun suatu ilmu khusus; semua ilmu pengetahuan rasional (aqli) yang merupakan lawan dari pengetahuan yang diwahyu-kan ( naqli)- seperti ilmu bahasa, nahwu, sharaf, ma `ani, bayan, badi' ;tafsir, hadis, fikih, usul, berada dalam kategori filsafat.
Dan dikarenakan kata ini memiliki arti yang umum dan luas, maka seseorang dapat disebut sebagai filsuf tatkala ia mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan rasional yang ada pada masanya, yang berhubungan dengan ketuhanan, matematika, fisika, politik, etika, dan estetika.

Dikarenakan hal itu, maka mereka mengatakan, "Seorang filsuf adalah seorang yang dunia rasionalnya sama dengan dunia realitas eksternal." Kemudian tatkala Muslimin hendak rnenjelaskan pembagian ilmu menurut pandangan Aristoteles, mereka menggunakan kata filsafat atau hikmah. Mereka mengatakan bahwa filsafat (ilmu rasional) memiliki dua bagian: teoretis dan praktis.

Filsafat teoretis ialah filsafat yang membahas berbagai benda sesuai dengan apa adanya, sedangkan filsafat praktis adalah pernbahasan tentang bagaimanakah selayaknya perbuatan dan perilaku manusia. Filsafat teoretis terbagi menjadi tiga bagian: Ilahiah (teologi) yang juga biasa disebut dengan filsafat tinggi, matematika atau filsafat menengah, dan ilmu fisika atau filsafat rendah.

Filsafat Ilahiah atau filsafat tinggi, terdiri dari dua bagian: Ilahiah yang berhubungan dengan perkara-perkara umum dan ilahiah dalam arti khusus. Sedangkan filsafat matematika terdiri dari empat bagian: aritmetika, geometri, astronomi, dan musik. Filsafat fisika juga memi­liki berbagai macam dan bagian. Filsafat praktis dibagi menjadi: ilmu etika, ilmu mengurus rumah, ilmu politik ketatanegaraan.

Dengan demikian, seorang filsuf yang sempurna ialah seseorang yang mampu menguasai seluruh jenis dan bagian ilmu pengetahuan yang telah disebutkan.

disarikan: Dzulfikar