Jiwa manusia mempunyai
wujud tersendiri, yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk
menerima jiwa. Jiwa berhajat kepada badan manusia, karena otaklah, sebagaimana
dilihat di atas, yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. Makin
banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap
arti-arti murni. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan, jiwa tak berhajat
lagi pada badan, bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap
arti-arti murni.
Jiwa tumbuh-tumbuhan
dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai
fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya, Kedua jiwa ini, karena telah
rnemperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembali di akhirat. Jiwa
manusia, berlainan dengan kedua jiwa di atas, fungsinya tidak berkaitan dengan
yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. Karena itu balasan
yang akan diterimanya bukan di dunia, tetapi di akhirat. Kalau jiwa
tumbuh-tumbuhan dan binatang tidak kekal, jiwa manusia adalah kekal. Jika ia
telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami
kebahagiaan di akhirat. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum
sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak.
Dari faham bahwa jiwa
manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya
pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali.
Demikianlah beberapa
aspek penting dari falsafat Islam. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi
kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis
(al-jins) serta diferensia (al-fasl). Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga
tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan; yang ada hanyalah semata-mata zat.
Pemurnian itu membawa
Al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran
alam qadim, tak bermula dalam zaman dan baqin, tak mempunyai akhir dalam zaman.
Karena Tuhan dalam falsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang
banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa, timbul pendapat bahwa
Tuhan tidak mengetahui juz'iat, yaitu perincian yang ada dalam alam ini. Tuhan
mengetahui hanya yang bersifat universal. Karena akal I, II dan seterusnyalah
yang mengatur planet-planet maka Akal I, II dan seterusnya itulah yang
mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Karena inti
manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan, pembangkitan
jasmani tak ada. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para
filosof percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam.
Inilah sepuluh dari
duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran
para filosof lslam. figa, diantara sepuluh itu, menurut al-Ghazali membawa
mereka kepada kekufuran, yaitu :
1. Alam qadim dalam
arti tak bermula dalam zaman
2. Pembangkitan jasmani tak ada
3. Tuhan tidak rnengetahui perincian yang terjadi di alam.
Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran, dalam pendapat al-Ghazali, karena qadim dalam falsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman, yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Dan ini berarti tidak diciptakan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah : la qadima, illallah, tidak ada yang qadim selain Allah. Kalau alam qadim, maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Ini membawa kepada faham syirk atau politeisme, dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan.
2. Pembangkitan jasmani tak ada
3. Tuhan tidak rnengetahui perincian yang terjadi di alam.
Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran, dalam pendapat al-Ghazali, karena qadim dalam falsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman, yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Dan ini berarti tidak diciptakan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah : la qadima, illallah, tidak ada yang qadim selain Allah. Kalau alam qadim, maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Ini membawa kepada faham syirk atau politeisme, dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan.
Tidak diciptakan bisa
pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. Ini membawa pula kepada
ateisme. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar
Islam tauhid, yang sebagaimana dilihat di atas para filosof mengusahakan Islam
memberikan arti semurni-murninya. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap
kafir filosof yang percaya bahwa alam ini qadim.
Mengenai masalah kedua,
pembangkitan jasmani tak ada, sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an
menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Umpamanya ayat 78/9 dari surat
Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini?
Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali".
Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya
pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an, yang adalah wahyu dari Tuhan.
Pengkafiran tentang
masalah ketiga, Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam, juga
didasarkan atas keadaan falsafat itu, berlawanan dengan teks ayat dalam
al-Qur'an. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat Al-An'am: Tiada daun
yang jatuh yang tidak diketahui-Nya.
Pengkafiran Al-Ghazali
ini membuat orang di dunia lslam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat
pemikiran, menjauhi falsafat. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali
mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah
falsafat tetapi tasawuf. Dalam pada itu sebelum zaman Al-Ghazali telah muncul
teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Teologi baru itu
dibawa oleh al-Asy'ari (873-935), yang pada mulanya adalah salah satu tokoh
teologi rasional. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan
faham Mu'tazilahnya dan menimbulkan, sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah,
teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari.
Sebagai lawan dari
teologi rasional Mu'tazilah, teologi Asy'ari bercorak tradisional. Corak
tradisionalnya dilihat dari hal-hal berikut :
1. Dalam teologi ini
akal mempunyai kedudukan rendah, sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada
arti lafzi dari teks wahyu. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu
untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan falsafi.
2. Karena akal lemah,
manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang
belum dewasa, yang belum bisa berdiri sendiri, tetapi masih banyak bergantung
pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Teologi ini mengajarkan faham
jabariah atau fatalisme, yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Manusia di
sini bersikap statis.
3. Pemikiran teologi
al-Asy'ari bertitik tolak dari faham kehendak mutlak Tuhan. Manusia dan alam
ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang
dibuatnya. Karena itu hukum alam dalam teologi ini tak terdapat; yang ada ialah
kebiasaan alam. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam,
selamanya membakar , tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak
Tuhan.
Jelas teologi
tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah
dan filosofis, sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'taziiah. Sesudah
al-Ghazali, teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian
Timur. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman al-Ghazali ilmu dan falsafat tak
berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan
filosof-filosof Islam. bersambung
0 comments:
Post a Comment