2. Pandangan seimbang
Apabila kita meninjau kembali rasionalisme, fideisme dan
relativisme, maka menjadi jelas bahwa kesalahan dasar sikap-sikap itu terletak
pada ketidakseimbangannya. Yang kita cari adalah sikap seimbang. Sikap seimbang
adalah sikap yang dapat menerima serta menanggapi unsur-unsur benar dalam tiga
sikap ekstrem itu, tetapi menghubungkannya satu sama lain.
Kita mulai dengan fideisme. Fideisme mementingkan iman, percaya
kepada wahyu ilahi. Kalau orang percaya kepada Allah, ia langsung akan mengakui
bahwa sikap dasar fideisme itu benar. Kalau Allah memang ada, jelas Allah itu
ada mutlak, baik sebagai kebenaran, maupun dalam kekuasaan untuk bertindak.
Maka sabda Allah adalah mutlak benar dan merupakan pegangan mutlak bagi
manusia. Wajarlah orang beriman mendasarkan hidupnya atas wahyu Allah.
Akan tetapi, justru kemutlakan Allah itulah yang seharusnya
membuat kaum fideis sadar bahwa kemampuan manusia untuk bernalar perlu
dipergunakan, bahkan ia berdosa terhadap Allah Pencipta apabila ia tidak mau
bernalar. Mengapa ?
Karena, segala apa yang ada adalah ciptaan Allah, termasuk akal
budi dengan kemampuannya untuk bernalar. Jadi, akalbudi dan wahyu berasal dari
sumber yang sama, dari Allah. Dan oleh karena itu, tidak mungkin dua-duanya
secara prinsipiil bertentangan.
Jadi, adalah tidak mungkin, kalau manusia mempergunakan nalarnya
secara benar, artinya secara terbuka, kritis, mendalam, ia sampai pada hasil
yang bertentangan dengan wahyu. Karena semuanya berasal dari sumber yang sama,
maka hanya ada satu kebenaran. Itu juga berarti bahwa adalah tidak tepat kalau
hubungan nalar-wahyu dirumuskan begini : Pakailah nalar sejauh tidak menyangkut
isi wahyu. Hakekat nalar manusia adalah mencari kebenaran. Seseorang akan
berdosa apabila pencarian kebenaran diputuskan begitu saja pada titik tertentu.
Berdosa terhadap kehendak Dia yang menciptakan nalar itu.
Maka, semua pemecahan konflik wahyu-nalar yang berpola :
Kurangilah, atau hentikanlah penalaran, jangan bernalar secara radikal dan
sebagainya, adalah salah. Salah terhadap nalar, salah secara moral karena
membuka pintu pada sikap munafik dan bohong, dan salah secara keagamaan karena
menyangkal bahwa nalar berasal dari Allah. Tidaklah benar pendapat bahwa
semakin alim seseorang, semakin ia tidak berpikir, mencari-cari, menyelidiki
dan mengetahui.
Lalu, mengapa terdapat pertentangan antara wahyu dan nalar
manusia? Atas pengandalan di atas, sebenarnya tidak boleh ada perten- tangan,
dan pertentangan itu kelihatan bersifat sementara. Hal itu tidak mengherankan.
Nalar manusia tidak pernah sempurna, tidak pernah menangkap seluruh kebenaran.
la suka melihat satu sudut dan melupakan yang satunya. la terpengaruh oleh prasangkanya.
Dari mana pertentangan sementara itu? Pertentangan antara wahyu dan nalar dapat
berasal dari keduabelah pihak, dari fihak nalar dan dari pihak wahyu.
Di satu pihak, nalar dapat melampaui batasnya. Teori ilmu
pengetahuan moderen membuat kita sangat sadar akan keterbatasan nalar .
.Misalnya saja, pernyataan atheisme bahwa "Allah tidak ada" menurut
metodologi sekarang tidak rasional. Kalau Allah ada, maka Allah mengatasi nalar
manusia, maka baik adanya maupun tidak adanya tidak dapat dipastikan melalui
nalar belaka.
Tetapi kesalahan sering terletak bukan di pihak nalar, melainkan
di pihak wahyu. Tentu saja bukan pada wahyu itu sendiri. Wahyu sendiri tidak
dapat salah karena wahyu adalah Sabda Allah yang Maha benar. Tetapi, cara
manusia menangkap dan mengartikan wahyu dapat saja salah, karena untuk itu
manusia mau tak mau mempergunakan nalar yang sama yang juga di pergunakan dalam
penyelidikan ilmiah atau dalam filsafat. Jadi dapat saja terjadi pertentangan
antara nalar dan apa yang dianggap wahyu, karena manusia menyebut sesuatu
kebenaran wahyu yang sebenarnya bukan wahyu, melainkan tafsirannya. Jadi,
kontradiksi itu terletak bukan antara wahyu dan nalar, melainkan antara
tafsiran nalar manusia tentang wahyu dan hasil nalar manusia lain.
Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa antara wahyu dan
pengetahuan manusia tidak mungkin ada pertentangan, asal saja keduabelah pihak
tahu batas mereka masing-masing. Kalau ada pertentangan, pertentangan itu
sebenarnya tak pernah terjadi antara wahyu dan nalar, melainkan antara nalar
yang satu (yang berusaha mengerti, dan dengan demikian selalu juga menafsirkan
wahyu) dengan nalar yang lain (yang dipakai dalam kegiatan ilmiah maupun dalam
kehidupan sehari-hari).
Ada pertimbangan tambahan.
Wahyu dan nalar berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah. Maka dua-duanya
wajib dipakai dengan sebaik- baiknya, tetapi menurut maksudnya masing-masing.
Kiranya manusia dijadikan makhluk bernalar oleh Sang Pencipta agar
supaya ia mempergunakan nalarnya itu sebaik-baiknya untuk mewujudkan
kehidupannya. Jadi, nalar diberikan untuk hal-hal yang terletak dalam jangkauan
nalar itu. Yang ada dalam jangkauan nalar adalah alam terbatas, alam tercipta.
Maka nalar itu dipanggil untuk mencari pengetahuan serta pengertian yang
semakin benar dan men- dalam tentang seluruh alam ciptaan. Untuk itu, manusia
dapat mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dengan cara masing-masing untuk
menyelidiki apa yang ada. Wilayah nalar adalah manusia sendiri, alam inderawi
dan masyarakat. Sedangkan Allah tidak dapat "dikuasai" oleh nalar
.Satu-satunya yang dapat dicapai nalar menuju Allah adalah keterbukaannya,
serta pencarian jejak-jejak kebesaran Allah dalam alam ciptaan. Tetapi tentang
siapa Allah yang sebenarnya, bagaimana hidup batin Allah, apa yang menjadi
kehendak dan tuntutannya serta sikapnya terhadap manusia, itu semua secara
prinsipiil tak terjangkau oleh nalar manusia (Mengapa? Karena nalar manusia
bersifat terbatas/terhingga sehingga kekhasan Allah yang justru tak
terbatas/tak terhingga tidak teljangkau olehnya).
Pertimbangan ini menunjukkan juga untuk tujuan apa Allah berkenan
menurunkan wahyunya. Kiranya tidak untuk memberitahukan hal-hal yangjuga dapat
diselidiki dan diketahui melalui nalaryangjustru juga diberikan oleh Allah.
Seakan-akan wahyu mau membuat manusia malas bernalar saja. Melainkan, wahyu
kiranya diberikan kepada manusia untuk mengetahui hal-hal yang justru tidak,
dan tidak pernah, dapat diketahui dengan nalar, yaitu tentang Allah sendiri
sebagaimana disebutkan di atas. Karena skap Allah menyangkut manusia yang masih
berada dalam dunia, maka dalam wahyu juga terdapat hal-hal yang menyangkut
dunia (terutama apa yang menjadi tanggungjawab serta kewajiban manusia dalam
hidupnya di dunia, jadi bidang moralitas) tetapi bukan sebagai pemberitahuan
tentang dunia, melainkan tentang sikap Allah terhadapnya. Akan tetapi, wahyu
tidak bermaksud memberikan informasi tentang hal-hal yang juga dapatkita
selidiki melalui ilmu pengetahuan, melainkan tentang hal yang memang tidak
dapat diselidiki melalui ilmu pengetahuan, tentang Allah sendiri.
Oleh karena itu dapat juga dikatakan begini : Apabila nalar mau
menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia yang paling fundamental seperti misalnya
:Siapakah Allah, apa kehendak dan sikap Allah terhadap manusia, apa tujuan
terakhir manusia, nalar tidak memadai dan mudah salah tafsir, sombong dan
menyesatkan. Dan sebaliknya,jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan mengenai
dunia : Misalnya apakah matahari mengitari bumi atau sebaliknya, bagaimana
urutan terjadinya organisme-organisme hidup di bumi (yang ditegaskan dalam
wahyu ialah bahwa ada dunia dan bahwa adahidup serta bahwa hidup dapat
berkembang akhirnya berdasarkan keputusan Allah), tetapi juga manakah
struktur-struktur psikis dan sosial manusia, manakah struktur-struktur ekonomis
dan politis yang paling cocok agar manusia hidup dengan sejahtera; semua hal
ini kita carijawabannya bukan dalam wahyu, melainkan dari pengalaman kita,
dengan bantuan ilmu pengetahuan. Kalau kita mencari jawaban tentang hal-hal
manusia dan duniawi itu dalam wahyu, kemungkinan besar kita akan salah tafsir
dan lalu menciptakan kesan pertentangan yang sebetulnya tak benar.
Maka, adalah tidak betul pendapat bahwa semakin alim seseorang
semakin ia merasa tidak perlu berpikir, mencari-cari, menyelidiki dan
mengetahui. Justru orang yang mantap karena berakar dalam iman, akan lebih
mantap dan berani juga untuk mempergunakan akalbudinya. la tidak takut dengan
pengetahuan yang lebih kritis dan mendalam akan menjauhkannya dari iman. Dan
menurut hemat saya, kita tidak boleh memberikan kesan bahwa semakin kita
berpikir secara mendalam dan kritis, semakin agama berada dalam bahaya.
0 comments:
Post a Comment