Selama periode awal
evolusi spritual umat manusia, khayalan manusia telah menciptakan Tuhan-Tuhan
dalam citra manusia sendiri, yang – dengan berlangsungnya kehendak mereka –
ingin menentukan, atau paling tidak mempengaruhi sampai tingkat tertentu, dunia
fenomenal. Manusia berusaha mengubah ketentuan Tuhan-Tuhan ini untuk kebaikan
mereka sendiri dengan cara magis dan penyembahan. Gagasan Tuhan pada saat ini
adalah penghalusan dari konsep lama tentang Tuhan-Tuhan. Sifat antropomorfisnya
tampak, misalnya, pada kenyataan bahwa manusia memuja Wujud Ilahiah dalam
sembahyang-sembahyangnya, dan memohon dipenuhinya keinginan-keinginan mereka.
Sudah pasti, tak
seorang pun akan menolak gagasan adanya suatu Tuhan personal yang mahakuasa,
adil, dan maha pemurah dapat menjadi pelipur lara, pemberi bantuan dan
pembimbing manusia; juga, disebabkan sederhananya gagasan itu, ia dapat
dipahami oleh orang yang pikirannya paling lemah sekalipun. Tapi, di pihak
lain, ada kelemahan yang amat penting dalam gagasan antropomorfis ini sendiri,
yang terasa amat menyakitkan sejak permulaan sejarah. Yaitu bahwa jika Wujud
ini mahakuasa, maka setiap peristiwa, termasuk setiap perbuatan manusia, setiap
pikiran manusia, dan setiap perasaan dan aspirasi manusia adalah juga
karya-Nya; bagaimana mungkin kita berpendapat bahwa manusia bertanggung jawab
atas semua perbuatannya dan pemikirannya di depan Wujud mahakuasa seperti itu?
Dalam memberikan hukuman dan ganjaran, Ia akan melewati penilaian terhadap
Diri-Nya sendiri. Bagamana ini dapat dikombinasikan dengan kebaikan dan
kemurahan yang menjadi sifat-Nya? Sumber utama dari pertentangan masa ini
antara ilmu dan agama terletak pada konsep Tuhan yang personal ini.
Orang yang yakin
sepenuhnya pada berlakunya hukum sebab akibat secara unuversal, tak akan bisa
menganut suatu gagasan tentang satu wujud yang ikut campur dalam terjadinya
peristiwa-peristiwa tentunya, dengan syarat ia memperlakukan hipotesis
sebab-akibat itu secara serius. Ia tidak butuh lagi agama-takut, begitu juga
agama-moral. Suatu Tuhan yang memberi ganjaran dan menghukum, tidak dapat lagi
dipahaminya, karena alasan sederhana bahwa segala perbuatan manusia sudah
ditentukan harus dilakukan, sehingga di mata Tuhan ia tak dapat bertanggung
jawab – persis sama sebagaimana halnya suatu benda mati tak bertanggung jawab
atas gerakan-gerakan yang dijalaninya. Demikianlah, maka ilmu telah dituduh
menghancurkan moralitas, tapi tuduhan itu tidaklah adil. Perilaku etis manusia
harus didasarkan secara efektif pada simpati, pendidikan, hubungan sosial, dan
kebutuhan-kebutuhan; tak diperlukan dasar agama. Manusia pasti akan menjadi
miskin kalau ia harus dikekang oleh perasaan takut akan hukuman dan harapan
akan ganjaran setelah mati.
Maka, mudah Kita
pahami mengapa gereja selalu memerangi ilmu dan mendukung para pendukungnya, di
pihak lain perasaan religius kosmik merupakan motif paling kuat dan mulia bagi
penelitian keilmuan. Hanya mereka yang mengerti usaha yang luar biasa dan
pengabdian yang telah mewujudkan semua karya pionir dalam ilmu teoritis, yang
dapat menangkap kekuatan emosi yang karenanya karya-karya tersebut - yang
begitu jauh dari kenyataan hidup sehari-hari dapat tercipta. Betapa dalamnya
keyakinan tentang rasionalitas alam semesta, dan betapa kuatnya dorongan untuk
memahami yang pasti dimiliki Kopler dan Newton sehingga mereka dapat bertahan
dalam kerja sunyinya yan bertahun tahun untuk menguraukan prinsip-prinsip
mekanik alam semesta. Mereka yang pengalamannya dalam penelitian keilmuan
didapat dari terutama hasil-hasil praktisnya dengan mudah mengembangkan gagasan
yang sama sekali salah tentang mentalitas manusia yang – dalam lingkungan alam
skeptis – telah menunjukkan dalam sesamanya suatu semangat yang terserak
keseluruh dunia dan sepanjang masa. Hanya sesoran yang mengabdikan hidupnya yang
gambkang dengan apa yang telah mengilhami orang-orang itu dan yang memberi
mereka kekuatan untuk tetap setia kepada tujuan-tujuan mereka, meski mengalami
kegagalan-kagagalan yang tak terhitung adalah perasaan religius-kosmik yang
memberi seseorang kekuatan semacam itu. Seorang dari zaman kita telah
mengatakan bahwa yang materialistik ini hanyalah pekerja ilmu yang serius yang
benar –behnar merupakan orang religius.
0 comments:
Post a Comment