Al-Fârâbî agaknya sadar
sepenuhnya akan fakta berikut: sementara esensi dari kebijaksanaan abadi ini
satu dan sama dalam setiap tradisi, sejauh ini tidak ditemukan model
pengungkapan yang sama pada tradisi-tradisi ini. Tetapi, Al-Fârâbî tidak
menjelaskan deskripsi cara pengungkapan ini dalam kasus tradisi pra-Yunani.
Tetapi dia menyebut filosof-filosof Yunani, tepatnya plato dan Aristoteles,
khususnya lagi Aristoteles, sebagai pencipta bentuk-bentuk pengungkapan dan
penjelasan baru dari kebijaksanaan kuno ini, berupa pengungkapan dialektis atau
logis. Pengetahuan tentang bentuk-bentuknya baru diwarisi oleh Islam melalui
orang-orang Kristen Syria.
Sebagaimana telah kita
lihat, Al-Fârâbî mendefinisikan kebijaksanaan tertinggi sebagai
"pengetahuan paling tinggi tentang Yang Maha Esa sebagai Sebab pertama
dari setiap eksistensi sekaligus Kebenaran pertama yang merupakan sumber dari
setiap kebenaran". Mengikuti Aristoteles, Al-Fârâbî menggunakan istilah
filsafat untuk merujuk pada pengetahuan metafisis yang diungkapkan dalam
bentuk-bentuk rasional serta ilmu-ilmu,yang dijabarkan dari pengetahuan
metafisis yang didasarkan pada metode demonstrasi yang meyakinkan. Karena itu,
filsafat Al-Fârâbî terdiri dari empat bagian: ilmu-ilmu matematis, fisika
(filsafat alam), metafisika, dan ilmu tentang masyarakat (politik). Perbedaan
filsafat-agama oleh Al-Fârâbî dibayangkan dalam konteks satu tradisi wahyu yang
sama. Tetapi perbedaan itu memiliki keabsahan universal, yang dapat diterapkan
bagi setiap tradisi wahyu. Dengan meninjau tiap-tiap tradisi dalam batas-batas
pembagian hierarkis menjadi filsafat dan agama, Al-Farabi memberikan teori
untuk menjelaskan fenomena, keragaman agama. Menurutnya, agama berbeda itu satu
sama lain karena kebenaran-kebenaran intelektual dan spiritual yang sama bisa
jadi memiliki banyak penggambaran imajinatif yang berlainan. Kendati demikian,
terdapat kesatuan pada setiap tradisi wahyu didataran filosofis, karena
pengetahuan filosofis tentang realitas sesungguhnya hanya satu dan sama bagi
setiap bangsa dan masyarakat.
Pada saat yang sama,
Al-Fârâbî menyukai gagasan keunggulan relatif satu lambang religius atas
lambang lainnya, dalam pengertian bahwa lambang-lambang dan citra-citra yang
dipakai dalam satu agama lebih mendekati kebeparan spiritual yang hendak
disampaikan-lebih tepat dan lebih efektif-ketimbang yang dipakai dalam agama
lainnya. renting dicatat, Al-Farabi diketahui tidak pernah mencela agama
tertentu, meskipun dia berpendapat bahwa sebagian dari lambang dan citra
religius agama tersebut tak memuaskan atau bahkan membahayakan. Tulisnya:
Tiruan dari hal-hal
macam itu bertingkat-tingkat dalam keutamaannya; penggambaran imajinatif
sebagian dari mereka lebih baik dan lebih sempurna, sementara yang lainnya
kurang baik dan kurang sempurna; sebagian lebih dekat pada kebenaran, sebagian
lain lebih jauh. Dalam beberapa hal, butir-butir pandangannya sedikit-atau
bahkan tidak dapat-diketahui, atau malah sulit berpendapat menentang mereka,
sementara dalam beberapa hal lainnya, butir-butir pandangannya banyak atau
mudah dilacak, di samping mudah memahami pendapat tentang mereka atau untuk
menolak mereka.
Perbedaan
filsafat-agama sebagaimana telah dirumuskan Al-Fârâbî, lagi-lagi, menjadi fokus
pemusatan hierarki ilmu dalam pemikirannya. Ketika perbedaan ini diterapkan
baik pada dimensi teoretis maupun praktis dari wahyu, seperti dikemukakan
sebelumnya, kita akan sampai pada hasil yang menyoroti lebih jauh perlakuan
Al-Fârâbî terhadap ilmu-ilmu religius dalam klasifikasinya dikaitkan dengan
ilmu-ilmu filosofis. Kalâm dan fiqh, satu-satunya ilmu-ilmu religius yang
muncul dalam klasifikasinya, Al-Fârâbî adalah ilmu-ilmu eksternal atau
eksoterik dari dimensi-dimensi wahyu secara teoretis dan praktis. Metafisika (al-'ilm
al-ilâhî) dan politik (al-'ilm al-madanî) berturut-turut
merupakan mitra filosofisnya. selesai
0 comments:
Post a Comment